Drama2026-05-27· 12 panel

Jasa Titip Rindu

Seorang pemilik toko Jasa Titip menerima pelanggan paling aneh dalam kariernya — seorang ibu yang ingin menitipkan rindu, bukan barang. Tarifnya sesuai tarif barang ringan. Pengirimannya: satu panggilan telepon.

Panel 1 — Wide shot, eksterior + interior

Setting: Sore hari menjelang maghrib. Toko kecil di pinggir jalan kompleks — papan kayu cat putih bertuliskan "JASA TITIP — APA AJA BISA" agak luntur. Etalase berisi kardus-kardus paket tersusun rapi. Di dalam, Pak Yusuf (40-an, kemeja batik lengan pendek, kumis tipis, kacamata baca tergantung di kerah) duduk di belakang meja kayu. Tangannya memegang HP, scroll TikTok dengan ekspresi setengah kantuk. Cahaya orange masuk dari jendela.

Mood: Tenang, sedikit membosankan. Sore yang sepi pelanggan.

Caption: "Sore Selasa. Pesanan terakhir sudah dikirim dua jam lalu."

Panel 2 — Medium shot, pintu masuk

Setting: Pintu kaca berbingkai kayu terbuka. Bel kuningan kecil di atas pintu bergemerincing — efek suara "TING" digambar sebagai SFX kecil di sudut. Bu Ningsih (akhir 50-an, rambut perak diikat rapi, kebaya katun warna lembut, tas tangan rotan tua yang sudah pudar) berdiri di ambang pintu. Bahunya sedikit menunduk, ragu-ragu. Cahaya luar membuat siluetnya keemasan.

Mood: Lembut, sedikit canggung. Karakter baru yang penting.

SFX: TING

Panel 3 — Medium shot, dua karakter

Setting: Pak Yusuf sudah meletakkan HP, badan tegak, senyum profesional terbentuk — separuh refleks, separuh tulus. Bu Ningsih berhenti di depan meja, kedua tangannya memegang tas rotan di depan perut, posisi sopan.

Mood: Pertemuan formal antara dua orang yang belum saling kenal.

Pak Yusuf: "Selamat sore, Bu. Mau titip apa hari ini?"

Panel 4 — Close-up Bu Ningsih

Setting: Wajah Bu Ningsih mengisi panel, agak dari samping. Senyum kecil sopan, tapi matanya menyimpan sesuatu — bukan sedih, lebih seperti seseorang yang sudah menimbang lama sebelum datang. Latar belakang blur.

Mood: Tenang, tapi berat.

Bu Ningsih: "Saya mau titip... sesuatu."

Bu Ningsih (balon kecil di bawah): "Yang agak tidak biasa."

Panel 5 — Close-up tangan

Setting: Tangan Bu Ningsih (kulit yang sudah berkeriput halus, kuku pendek tidak dicat, cincin emas tipis di jari manis) membuka resleting tas rotan. Pak Yusuf di latar belakang sudah condong ke depan — gestur refleks pelayan jasa yang siap menerima barang.

Mood: Anticipasi kecil. Pembaca bertanya: apa isinya?

(tanpa dialog — pacing visual)

Panel 6 — Medium shot, item utama

Setting: Tangan Bu Ningsih meletakkan satu lembar amplop putih kosong di tengah meja. Amplopnya rapi, baru, tidak dilipat. Tidak ada tulisan apapun di permukaannya. Pak Yusuf menatap amplop itu, matanya menyipit sedikit — bingung.

Mood: Comedic beat kecil — "kok cuma amplop kosong?"

(tanpa dialog — biarkan visual berbicara)

Panel 7 — Medium shot, reaksi Pak Yusuf

Setting: Pak Yusuf menyentuh sudut amplop dengan ujung jari, mengangkatnya sedikit untuk memeriksa. Kening berkerut. Bu Ningsih di seberang meja, masih tenang.

Mood: Kebingungan profesional, sopan tapi nyata.

Pak Yusuf: "Bu... maaf. Amplopnya kosong."

Pak Yusuf (balon kecil): "Mau dikirim ke mana?"

Panel 8 — Close-up Bu Ningsih, senyum kecil

Setting: Bu Ningsih sedikit menundukkan kepala, senyum tipis yang mengandung kesabaran seseorang yang sudah lama menyiapkan kalimat ini. Background lembut, mungkin sedikit blur ke tirai etalase yang bergerak pelan.

Mood: Pergeseran tonal — dari komedi kecil ke sesuatu yang lebih dalam.

Bu Ningsih: "Bukan amplopnya yang saya titip, Pak."

Bu Ningsih (balon terpisah, lebih pelan): "Saya mau titip rindu. Ke anak saya. Di Surabaya."

Panel 9 — Medium shot, Pak Yusuf membeku

Setting: Pak Yusuf berdiri tegak — tangan masih memegang sudut amplop. Mulut sedikit terbuka, lalu menutup. Menggaruk belakang kepala dengan tangan satunya. Ekspresi: gabungan ingin tertawa, ingin sopan, dan ingin paham — tiga-tiganya kalah oleh satu rasa: aneh, tapi tidak salah.

Mood: Comedic timing, tapi sudah ada respect.

Pak Yusuf: "Rindu, Bu... saya kirimnya gimana?"

Pak Yusuf (balon kecil, ragu): "Saya nggak punya... pos buat itu."

Panel 10 — Close-up amplop di meja

Setting: Sudut atas amplop sekarang sudah ada tulisan tangan Bu Ningsih (huruf rapi, sedikit tremor di kelokan): nama anak — "Hendra" — dan nomor HP 12 digit. Pena hitam tergeletak di sebelah amplop. Tangan Bu Ningsih masih menutup sebagian frame, masih memegang pena.

Mood: Detail intim. Pembaca diberi waktu menyerap.

Bu Ningsih (off-panel): "Telepon dia. Bilang ibunya sehat. Bilang dapur di rumah masih wangi seperti dulu."

Bu Ningsih (off-panel, balon lebih kecil): "Tapi makanannya jadi terlalu banyak. Karena cuma ibunya yang makan."

Panel 11 — Close-up wajah Bu Ningsih

Setting: Wajah Bu Ningsih dari depan, ekspresi tidak menangis, tapi mata sedikit menerawang ke meja. Bibir sedikit tersenyum — senyum yang lebih ke arah "ya, begitulah". Latar belakang nyaris hilang, fokus penuh pada wajah.

Mood: Emotional core. Beat paling penting di komik ini.

Bu Ningsih (suara pelan): "Saya tidak bisa telepon sendiri, Pak."

Bu Ningsih (balon terpisah): "Dia tidak angkat... kalau lihat nama saya yang masuk."

Panel 12 — Wide shot, akhir

Setting: Pintu toko sudah menutup, bel masih bergetar pelan di atasnya. Bu Ningsih sudah keluar — siluetnya tipis di luar jendela, berjalan pelan. Di dalam toko, Pak Yusuf duduk sendirian di balik meja. Amplop di depannya. HP di tangan, layar menampilkan panggilan keluar ke nomor "Hendra" — sudah berdering, satu, dua, tiga gelombang animasi sinyal. Ekspresi Pak Yusuf serius, bukan profesional lagi — seperti orang yang sedang mengantar paket paling penting dalam hidupnya. Cahaya maghrib masuk dari jendela, menyiram meja dengan warna keemasan.

Mood: Resolusi tenang. Tidak overstated.

Caption: "Beberapa titipan tidak punya bentuk."

"Tapi sampainya tetap diukur — dari getaran suara di ujung sana."


END

Script: Comic Creator AI · Reviewed by Comic Reviewer · Nagrog Corp

← Semua komik